Masih Ingatkah Kau Jalan Pulang
Masih ingatkahkau jalan pulang?Tak ada jalandan tak ada pulangkita di atap langitnun di bawah rata belakasuatu saat birudi saat lain merah kesumba.Jadi kau tidak ingat lagitak percaya lagiakan jalan pulang?Apakah pergi harusjuga pulang?apakah pergiharus juga berpikiruntuk pulang?Apakah pulang hanya adakalau kita pergi?Apakah pulangdan pergi harus berpasangan?

Masih Ingatkah Kau Jalan Pulang Details

TitleMasih Ingatkah Kau Jalan Pulang
Author
LanguageIndonesian
ReleaseFeb 17th, 2020
PublisherGramedia Pustaka Utama
Rating
GenrePoetry, Asian Literature, Indonesian Literature, Romance, Fiction

Masih Ingatkah Kau Jalan Pulang Review

  • om & nivo
    January 1, 1970
    Gue baca buku ini tanpa ekspektasi apa pun, sekadar penasaran dengan fusion dari Pak Sapardi dan Tsana.Ternyata gue suka.Gue setuju dengan perkataan temen gue yang bilang kalo dalam buku ini mellow-nya anak sekarang dapet dan touch romantis orang lamanya juga dapet. Jadi, selamat.Dan yang bikin gue sukamungkin bisa bikin hal ini jadi objektifkarena... damn you both, apa-apa yang ditulis di sini, bagaimana kalian bermain pingpong dengan kata-kata dalam puisi, bikin perasaan gue getir dan nggak Gue baca buku ini tanpa ekspektasi apa pun, sekadar penasaran dengan fusion dari Pak Sapardi dan Tsana.Ternyata gue suka.Gue setuju dengan perkataan temen gue yang bilang kalo dalam buku ini mellow-nya anak sekarang dapet dan touch romantis orang lamanya juga dapet. Jadi, selamat.Dan yang bikin gue suka—mungkin bisa bikin hal ini jadi objektif—karena... damn you both, apa-apa yang ditulis di sini, bagaimana kalian bermain pingpong dengan kata-kata dalam puisi, bikin perasaan gue getir dan nggak enak—dalam artian gue bisa related.Frankly speaking gue nggak terlalu suka dengan puisi panjang yang "titik"-nya suka hilang, tapi rasanya di sini semacam perkecualian.Buat yang lagi dilematis sama hubungan, buku ini bisa memperparah luka kalian. Jadi hati-hati, ya.* * *Sudah berapa kali kubilangjarak antara pergi dan pulangsejengkal saja.Hanya sejengkaldan itu pun hanya adadi otak kitahanya adadi ruh kitayang lebih sukatinggal di awang-awang.Oke, tidak ada pergidan tidak ada pulang, katamu.Tapi masih ingatkah kau langkahpertama ketika berjanjiakan setia kepada pulangdan tak hanya mati-matianberiman pada pergi?—hal. 59
    more
  • Faizah Aulia R
    January 1, 1970
    2.5 maybe (?)Aku baca buku ini karena punya ekspektasi sama eyang SDD dan melupakan kalau ini adalah kolab, sehingga ya ekspektasi yg kupunya ya ga meets sama kenyataan, which is ini gak sepenuhnya puisi2 eyang SDD.Juga, aku yg gapernah baca buku2 Rintik Sedu sebelumnya (ini pertama kali di buku ini), jadi ya memang ngarep bukunya SDD banget heu. Aku (sok)tau mana bagian eyang SDD, mana bagian Rintik Sedu.This book was okay, but me craving more since ada nama SDD, and am a big fan of him jadi 2.5 maybe (?)Aku baca buku ini karena punya ekspektasi sama eyang SDD dan melupakan kalau ini adalah kolab, sehingga ya ekspektasi yg kupunya ya ga meets sama kenyataan, which is ini gak sepenuhnya puisi2 eyang SDD.Juga, aku yg gapernah baca buku2 Rintik Sedu sebelumnya (ini pertama kali di buku ini), jadi ya memang ngarep bukunya SDD banget heu. Aku (sok)tau mana bagian eyang SDD, mana bagian Rintik Sedu.This book was okay, but me craving more since ada nama SDD, and am a big fan of him jadi ngarep yg lebih tapi gak nemu jadi kecewa hinggg
    more
  • Pringadi Abdi
    January 1, 1970
    Mahakarya? Saya tertarik karena Rintiksedu bilangnya buku ini Mahakarya. Benarkah?Sayangnya, sebagai pembaca Pak Sapardi sejak orok, saya tidak menemukan jawaban klaim itu. Banyak pengulangan gagasan dan bahkan diksi di sini.Selengkapnya https://catatanpringadi.com/sebuah-re...
    more
  • Nike Andaru
    January 1, 1970
    36 - 2020Sebenarnya saya belum pernah baca satu pun bukunya Rintik Sedu. Sepertinya buku-bukunya banyak yang baca. Waktu tahu eyang Sapardi akan kolaborasi dengan Rintik Sedu, saya pikir akan berwujud novel atau novela lah gitu, ternyata buku puisi.Puisi disertai sedikit ilustrasi dicetak hardcover memang sungguh tren saat ini, yang dibaca sebentar bisa langsung selesai. SDD dari sisi penyair senior ketemu sama Rintik Sedu yang junior, tentu saja bukunya akan terasa perpaduan antara keduanya. 36 - 2020Sebenarnya saya belum pernah baca satu pun bukunya Rintik Sedu. Sepertinya buku-bukunya banyak yang baca. Waktu tahu eyang Sapardi akan kolaborasi dengan Rintik Sedu, saya pikir akan berwujud novel atau novela lah gitu, ternyata buku puisi.Puisi disertai sedikit ilustrasi dicetak hardcover memang sungguh tren saat ini, yang dibaca sebentar bisa langsung selesai. SDD dari sisi penyair senior ketemu sama Rintik Sedu yang junior, tentu saja bukunya akan terasa perpaduan antara keduanya. Ada rasa SDD tapi juga dikemas dalam kata-kata juga kalimat ala anak muda. Menarik, sambil membayangkan eyang SDD menulis kalimat-kalimat ala anak muda, saya jadi ingat eyang ikutan main Tiktok :D Ada yang harus saya baca berulang karena gak ada koma, apalagi titik dan ditulis nyambung terus. Maka, yang baca kudu sabar, bacalah berulang agar dapat yang dimaksud.Puisi tentang aku dan kau.aku dan kau yang katanya satu.yang meributkan pergi dan pulang.apakah pergi harus disertai pulang, atau gimana? Kalau kau merasa dirimu sakitkaulah hakikat obat itu.kalau kau pergi mencari obatcinta jugakah sang penawar itu?
    more
  • Afy Zia
    January 1, 1970
    2,5 bintang.[BERISI PENDAPAT PRIBADI]This book was okay, but not my cup of tea. :')Saya nggak bisa ngerasain emosi apa pun ketika baca.
  • Daniel
    January 1, 1970
    Sapardi Djoko Damono & Rintik SeduMasih Ingatkah Kau Jalan PulangGramedia Pustaka Utama112 halaman5.5
  • Rindu
    January 1, 1970
    Suka banget dengan konsep "perjalanan" yang hadir di buku ini. Mulai dari Ketukan Pintu dan berakhir di Sampailah Sudah.Although it's different from his other books, I still can recognize Eyang's style in this book with a little sparkle of the newest trend by Rintik Sendu. It's a fresh combination and the whole read was light and fun, with a little thrill in between. One page make you giggle, the next one will make you form a frown.--"Pulang tidak pernah punya Rumah dan tidak bisa diseret-seret Suka banget dengan konsep "perjalanan" yang hadir di buku ini. Mulai dari Ketukan Pintu dan berakhir di Sampailah Sudah.Although it's different from his other books, I still can recognize Eyang's style in this book with a little sparkle of the newest trend by Rintik Sendu. It's a fresh combination and the whole read was light and fun, with a little thrill in between. One page make you giggle, the next one will make you form a frown.--"Pulang tidak pernah punya Rumah dan tidak bisa diseret-seret ke mana-mana oleh siapa pun yang merasa pernah melahirkannya."
    more
  • cindy
    January 1, 1970
    Aku baca ini karena penasaran, bisa2nya pak sdd terkena virus kekinian, melempar buku puisi(?) galau2 seperti ini ke pasaran, apalagi dengan partner menulis yang belum pernah kunikmati karyanya samsek.Akhir membaca, yaa begitulah. Lewat saja. Ndak ada apa-apa. Tapi puisi-puisi tentang pulangnya ada satu dua yang cukup kunikmati. Itu saja. #numpangbacagramed
    more
  • Zelie
    January 1, 1970
    Tentu saja saya membaca buku ini karena ditulis oleh SDDSaya penasaran apa lagi yang hendak "ditawarkan" oleh Eyang lewat tulisannyaSaya baru membaca Hujan Bulan Juni versi puisi dan saya suka, dan buku ini, saya suka tapi tidak terlalu berkesan
  • Dini Annisa Humaira
    January 1, 1970
    Dengarkan segala apa yang dikatakan air.Dengarkan apa pun yang dibisikkan angin.Dengarkan apa pun yangtak bisa kaudengarkan.Yang memang tak ada perlunya didengarkanSebab sesungguhnya tidak pernah ada.
  • Indah Threez Lestari
    January 1, 1970
    135 - 2020
  • Maryam Qonita
    January 1, 1970
    Selalu kagum dengan Eyang Sapardi, dan pertama kalinya baca Rintik Sedu, sekarang jadi mengerti kenapa orang-orang pada baper baca puisi-puisinya :D Sukses terus ya, Tsana.
  • Farah Fakhirah
    January 1, 1970
    Ah, Eyang. Selalu melankolis :')
Write a review