38 and Pregnant
At the prime age of 38, Indonesian journalist Hera Diani found herself pregnant after being child-free by choice for 10 years. After the initial shock wore off, she decided to do something that writers tend to always do: chronicle her experience. Being unable to draw even if her life depended on it, she sought the help of illustrator Adhitya Pattisahusiwa to visualize her story. Taking the title of an MTV reality television series “16 and Pregnant", this graphic memoir presents an honest and witty account of a first pregnancy, an experience already fraught with problems for women in general, but even more so for one society usually labels as being already of a "mature" age.

38 and Pregnant Details

Title38 and Pregnant
Author
LanguageEnglish
ReleaseJul 16th, 2018
PublisherElex Media Komputindo
Rating
GenreNonfiction, True Story

38 and Pregnant Review

  • Ren
    January 1, 1970
    4 bintang At first I almost cried during the preface, because the pain that I thought already go away, rushed come back. In the end, I can't hold my tears back, because I can feel Hera's happiness when her boy finally born.Mungkin ini akan jadi curhat, but hey, kapan Ren ga curhat pas nulis review apalagi kalau isi bukunya sangat berkaitan dengan pengalaman pribadinya :)). Gue dan misua sudah nikah selama 5 tahun dan selama itu juga kami belum dikaruniai anak. Adik gue yang nikahnya hanya selan 4 bintang At first I almost cried during the preface, because the pain that I thought already go away, rushed come back. In the end, I can't hold my tears back, because I can feel Hera's happiness when her boy finally born.Mungkin ini akan jadi curhat, but hey, kapan Ren ga curhat pas nulis review apalagi kalau isi bukunya sangat berkaitan dengan pengalaman pribadinya :)). Gue dan misua sudah nikah selama 5 tahun dan selama itu juga kami belum dikaruniai anak. Adik gue yang nikahnya hanya selang 6 bulan saat ini sudah punya anak kembar, yang gue sayang banget dan tiap gue ke Malang selalu gue cari - cari. Lingkungan kantor gue rata - rata karyawan wanitanya adalah mahmud abas (mamah muda anak baru satu), atau anaknya sudah dua (bahkan tiga). Lingkungan rumah gue yang baru di Depok juga sama, anak - anak tetangga rata - rata sudah berumur 3 atau 4 tahun. Gue ngebatin "kalau gue dulu hamil langsung setelah nikah, mungkin anak gue seumuran mereka."Butuh waktu bertahun - tahun bagi gue untuk menata hati dan merasa ikhlas tiap melihat teman atau saudara yang baru punya anak dan mendengarkan cerita teman tentang anak - anak mereka. Gue dulu NANGIS ga karuan saat tahu adik gue melahirkan. Gue nangis bukan karena adik gue yang saat itu melahirkan premature bisa melahirkan dengan selamat, gue menangisi diri sendiri dan merasa GAGAL jadi perempuan. Apakah berhenti sampai ini? Oh tentu saja tidak :)). Membaca kata pengantar dari Hera, keputusannya dan suaminya untuk child-free selama 10 tahun dan mendapat tekanan dari masyarakat mau ga mau bikin gue menitikkan air mata sekaligus merasa geram. I've been there! Gue yang ga bilang "udahlah mau child free aja", sudah mendapat judgment dari lingkungan sekitar. Mulai dari teman yang nyuruh ngurusin badan, nyuruh ke klinik ini itu, dan keluarga yang juga berkomentar sama. But the most hurtful words come from my own sister who said "Mbak, kamu itu niat hamil atau ngga sih??". And to think that yesterday I just defend her from my sotoy friend that said "ngelahirin normal itu lebih baik daripada C-section!". Sayang ya, kita ga bisa putus hubungan keluarga, because blood is still blood. Membaca graphic novel ini membuat gue ngerti bahwa gue toh tak sendirian. Bahwa kehamilan pada usia tua pun...it's not bad. Hera sendiri bilang jika Nicole Kidman punya anak pertamanya di usia 41, jadi kenapa gue harus takut ya :)). Karena gue baca ini di GD, gue mutusin untuk ntar beli versi fisiknya dan nunjukin ke misua gue, that's well, with or without children, everything will be alright.Congrats for your little family, Hera! Ditunggu graphic novel yang nyeritain pas masa - masa parenthoodnya :D.
    more
  • Desty
    January 1, 1970
    Saya berumur 31 tahun saat hamil dan melahirkan anak pertama. Selama hampir 6 tahun childless (meminjam istilah dalam buku ini), kehadiran bayi merupakan hal yang besar. Belum lagi harus berhadapan dengan penelitian thesis yang tidak kunjung menunjukkan keberhasilan.Every woman deserve for her own time. Saya kira itulah pesan yang ingin ditunjukkan dari buku ini. Jangan menikah karena sepertinya semua orang sudah menikah. Tidak masalah belum/tidak punya anak sementara orang kebanyakan berpikir m Saya berumur 31 tahun saat hamil dan melahirkan anak pertama. Selama hampir 6 tahun childless (meminjam istilah dalam buku ini), kehadiran bayi merupakan hal yang besar. Belum lagi harus berhadapan dengan penelitian thesis yang tidak kunjung menunjukkan keberhasilan.Every woman deserve for her own time. Saya kira itulah pesan yang ingin ditunjukkan dari buku ini. Jangan menikah karena sepertinya semua orang sudah menikah. Tidak masalah belum/tidak punya anak sementara orang kebanyakan berpikir menikah itu untuk bikin anak. Karena waktu-Nya indah, dan Dia tahu apa yang kita butuhkan.
    more
  • Mia Prasetya
    January 1, 1970
    ah, bukunya simpel dan menyenangkan, bahkan tidak terasa air mata menitik di halaman akhir. Selamat menikmati peran sebagai ibu, Mba Hera! Semoga bakal ada buku lanjutannya ;)
  • Marina
    January 1, 1970
    ** Books 105 - 2018 **3,2 of 5 stars! I really give my applause since it is uneasy decision from being child-free for 10 years married and then decide to having a child! Thankyou Gramedia Digital Premium!
  • mellyana
    January 1, 1970
    Tentu saja aku bias dan itu tidak apa-apa deh. Buku ini menyenangkan, berbicara soal hal yang tidak biasa dibicarakan disini. Hamil di usia 38 dengan segala dramanya diceritakan dalam bentuk komik.Seperti ringan-ringan saja, tapi buat aku tulisan begini perlu ada. Bukan cuman buat bilang, hamil jangan jadi pembenaran buat tidak berbuat apa-apa di usia muda tapi juga buat bercerita nuansa lain dari kehamilan itu.
    more
  • Rizal Iwan
    January 1, 1970
    A one-of-a-kind book about being pregnant in Indonesia, with universal appeal and tongue-in-cheek local insights. Funny, heartfelt, educational as it is entertaining. As someone who will never experience this first-hand, this feels like a healthy dose of empathy injection. An enjoyable trip to unknown territory. I feel like Alice in Wonderland — a sarcastic, witty wonderland.
    more
  • Hera Diani
    January 1, 1970
Write a review